Kegagalan apa yang paling mengubah hidupmu?
Hampir semua orang pernah gagal. Ditolak, kehilangan kesempatan, membuat keputusan yang keliru, atau melihat sesuatu yang sudah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh berakhir tidak sesuai harapan.
Saat mengalaminya, kegagalan sering terasa seperti akhir dari segalanya. Tapi setelah waktu berlalu, tidak sedikit orang yang justru menyadari bahwa dari kegagalan itulah mereka belajar, bertumbuh, atau menemukan arah hidup yang baru.
Kalau kamu pernah mengalami kegagalan yang benar-benar mengubah hidupmu, kamu boleh menceritakannya di sini. Tidak harus kegagalan yang besar menurut orang lain. Selama pengalaman itu meninggalkan bekas dalam hidupmu, ceritamu layak untuk didengar.
Kalau masih bingung harus mulai dari mana, beberapa pertanyaan berikut mungkin bisa membantu.
-
Apa kegagalan yang paling membekas dalam hidupmu?
-
Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?
-
Bagaimana perasaanmu ketika mengalaminya?
-
Apa dampaknya terhadap kehidupanmu setelah itu?
-
Apa yang paling sulit kamu hadapi pada masa tersebut?
-
Pelajaran apa yang akhirnya kamu dapatkan dari pengalaman itu?
-
Jika bisa kembali ke masa itu, adakah sesuatu yang ingin kamu lakukan dengan cara yang berbeda?
Kamu nggak harus menjawab semua pertanyaan di atas. Anggap saja itu sebagai panduan untuk membantumu mulai bercerita.
Nggak perlu malu atau takut dihakimi. Di Temansevisi, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Justru melalui cerita-cerita seperti inilah kita bisa saling belajar, saling menguatkan, dan menyadari bahwa setiap orang pernah jatuh sebelum akhirnya bisa kembali melangkah.
Ceritakan pengalamanmu dengan jujur, bagaimana semuanya terjadi, apa yang kamu rasakan, bagaimana kamu melewatinya, dan pelajaran apa yang paling mengubah cara pandangmu terhadap hidup.
Ada banyak kegagalan di hidupku sampai aku sulit menghitung dengan jari.
Setiap kali aku tak mendapat apa yang aku harap, aku selalu menumpahkan lara dan bertanya pada sang Pencipta, "Untuk apa?".
Kenapa setiap kali aku berusaha, hampir jarang aku mendapat apa yang aku pinta.
Hanya saja, kegagalan bukan suatu akhir.
Aku tumbuh di keluarga yang tidak begitu menyalahkan 'kegagalan'.
Mereka terus menanamkan jalan bahwa, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
Maka dari itu, kegagalan yang kuterima mungkin lebih banyak daripada berhasil.
Namun, darimana aku belajar jika aku langsung menerima apa yang aku inginkan?
Jika dipikir dari sisi lain, mungkin aku akan menjadi orang congkak yang lupa akan rasa syukur. Maka dari itu aku diberi banyak kegagalan untuk melihat dari arah yang berbeda bahwa ... boleh jadi itu bukan yang baik untukmu atau akan kudapatkan di waktu yang tepat.