Pernah nggak sih ngerasa pengen cerita, tapi bingung harus mulai dari mana? Takut dibilang lebay. Takut nggak dimengerti. Akhirnya semuanya cuma dipendam sendiri. Padahal, semakin lama dipendam, hati sering kali terasa makin penuh. Kalau hari ini kamu lagi ngerasain itu, cerita aja di sini. Nggak perlu kata-kata yang rapi. Nggak perlu cerita yang sempurna. Tulis aja sebisamu. Semoga setelah bercerita, hatimu terasa sedikit lebih lega, dan kamu sadar kalau ternyata masih ada orang yang mau mendengarkan. 🤍
🌱 Bingung harus mulai dari mana?
- Apa yang lagi pengin kamu ceritakan hari ini?
- Apa yang paling memenuhi hati atau pikiranmu sekarang?
- Ada sesuatu yang selama ini belum sempat kamu ungkapkan?
- Apa yang kamu harapkan setelah membagikan cerita ini?
🤝 Yuk, sama-sama jaga ruang ini.
- Cerita dengan jujur dan saling menghargai.
- Dengarkan dengan empati, bukan menghakimi.
- Jaga privasi dan rasa aman bersama.
Di sini, nggak ada cerita yang terlalu sepele untuk didengar. Semoga ceritamu menemukan teman yang benar-benar mau membaca, memahami, dan menemanimu.
Bapak gue mendua.
Ralat, dia bukan bapak gue lagi. Gelar itu gak pantes buat orang yang udah menduakan seorang wanita yang dia bilang akan dicintai sampai akhir hayat, nyatanya dia memilih orang lain dan meninggal dengan orang itu pula.
Apakah di kematiannya gue nangis atau menyesal?
Gak sama sekali.
Gue datang ke makam dia tanpa mengantarkannya, menatap nisan dalam bisu, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata atau berpikir sesuatu tentang orang yang sudah ditanam itu.
Amarah gue udah cukup memupuk ketika tahu dia mendua dan menceraikan nyokap gue, yang ternyata alasan dia ingin berpisah karena sudah menemukan pujaan hati yang sesuai tipenya atau apalah, persetan.
Entah bagaimana anak haram mereka datang ke rumah gue dan nyokap.
Mereka dua orang, laki-laki sekitar 5 tahun saat itu dan perempuan berusia 3 tahun.
Keluarga jalang itu gak mau ngurusin anak hasil hubungan gelap ini, keluarga bokap apalagi. Mereka cuma mau harta bokap yang mana akhirnya tetap gue yang pegang kendali karena gue satu-satunya anak lelaki hasil hubungan sah secara hukum dan agama.
Dengan harta yang memang jadi milik gue dan nyokap, gue diberikan dua anak gak jelas yang harus tinggal di rumah gue juga.
"Ya udah gak papa, kasihan. Mereka masih kecil gak tahu apa-apa."
Nyokap gue emang baik, saking baiknya beliau gak marah ketika diduakan.
Saat anak-anak tidak jelas itu datang ke rumah kami? Beliau juga tak marah, malah mengasihani dan bersedia merawat mereka.
Gue saat itu masih sangat muda, mungkin belasan tahun, tapi gue udah menyimpan dendam begitu kuat pada anak-anak itu.
Apalagi si anak perempuan ... sangat mirip dengan si jalang itu.
Tentu gue gak menerima mereka gitu aja. Si anak lelaki tidak banyak bicara tapi menuruti apa yang nyokap gue katakan, bahkan sangat sopan untuk anak yang tidak dididik adab. Sementara si perempuan cukup manja, mungkin dimanjain bapaknya dulu, entahlah.
Namun semakin lama gue lihat mereka di rumah, semakin gue muak.
Ada satu masa dimana si anak perempuan datang ke kamar gue. Dia mengetuk, tapi gak gue respon karena saat itu gue lagi fokus main game. Entah gimana dia tiba-tiba masuk dan nyodorin bonekanya, ngajak gue main juga, tapi gue yang langsung naik pitam gegara dia masuk tanpa gue pinta, gue teriakkin sekencang-kencangnya sampai dia nangis dan keluar kamar.
Dia gak nangis histeris kayak anak seusianya, dia cuma nangis berlinang air mata sambil meluk boneka beruang pinknya kalau gak salah gue ingat.
Nyokap awalnya ngomong lembut ke gue, menasehati gue kalau anak perempuan itu gak boleh dikasarin dan kata-kata yang mengarah bahwa dia "adik gue" makin bikin gue muak. Gue gak keluar kamar selama beberapa hari karena marah dengan nyokap, terlalu membela anak gak jelas itu.
Beberapa hari gue gak keluar kamar, gue juga gak komunikasi sama nyokap. Makan pun enggan.
Sampai ada hari dimana gue mendengar suara kekhawatiran nyokap yang ngetuk pintu kamar dengan harapan yang hampir hilang. Untuk pertama kalinya pintu gue buka setelah beberapa hari dan nyokap bilang, bocah itu gak pulang dari pagi sementara di luar hujan lebat barengan angin ribut.
Gue awalnya flat aja pas dengar omongan nyokap, tapi karena ini nyokap gue, yang khawatir sama mereka, gue akhirnya turun dengan dua payung--satu untuk gue, satunya untuk dua anak kecil itu.
Jelas aja gue ngomel di dalam hati, turun ke jalan pas hujan lebat dan angin kencang sambil nyari anak yang nyusahin satu rumah.
Entah kenapa, gue langsung ketemu mereka.
Duduk di depan warung yang udah tutup. Si cewek pake jas hujan abangnya yang jelas kebesaran di badan dia, sementara si abang cuma diem sambil mandangin rintik-rintik air yang jatuh ke tanah.
Gue diem sebentar sebelum ngomong, karena di dalam hati gue udah gondok banget gara-gara mereka. Tapi pas gue mau ngomong, si cowok ngeliat gue dengan wajah datarnya.
"Mas Jevan ...."
Cuma itu yang bikin hati gue gemetar tiba-tiba.
Dia manggil gue dengan suara pelan, rasa takut, cemas, gue rasa semua campur jadi satu.
"Lo berdua nyusahin nyokap gue. Apa yang ada di pikiran lo sampai lo gak pulang-pulang?"
Mereka gak jawab gue sama sekali. Gue yang gak sabaran cuma bisa hembus napas kasar sambil lempar payung bening yang gue pegang dan jatuh ke tanah.
"Mau pulang atau enggak terserah, asal jangan kebasahan."
"Bukannya Mas Jevan benci sama kami?"
Benci?
Gue emang gak suka dengan keberadaan mereka di rumah gue. Mereka cuma parasit yang nyusahin hidup gue dan nyokap.
Tapi ... apa gue benar-benar benci sama mereka?
Gue bergeming, gak bisa ngomong apa pun.
Tiba-tiba ada guntur besar yang bikin anak cewek itu meluk si abang dengan ketakutan, tapi si abang nenangin dia sambil ngelus rambut cokelat dia yang kebasahan itu.
Sial, kenapa gue malah jadi kasihan? Pikir gue saat itu.
"Habis hujan reda, kita pulang."
Gue bilang gitu sambil nutup payung, duduk dekat si abang yang berarti adik laki-laki beda ibu gue, tanpa nyentuh dia sama sekali. Gue cuma duduk di dekat dia.
Gue ingat udara dingin bikin gue sesekali mengigil, tapi si laki-laki itu nepuk paha gue dan bilang, "Biar hangat."
"Siapa yang ngajarin?"
"Gak ada, tapi kalau aku pengen hangatin badan aku suka nepuk pahaku sendiri."
"Bodoh banget."
Itu yang gue balas ke dia.
Gak lama setelah hujan reda, gue ngajak dia pulang yang mana ternyata si cewek udah tidur. Si adik laki-laki beda ibu itu gendong adek ceweknya ... dan secara gak sadar gue malah pegang tangan cowok itu, jaga dia biar gak jauh-jauh dari gue.
Setelah kejadian itu memang hubungan gue sama mereka pelan-pelan membaik, walau gue masih sering nolak mereka juga.
Sekarang gue malah memprotect mereka dan gak mau mereka kenapa-kenapa. Untungnya juga karena ajaran nyokap, mereka jadi anak baik-baik gak kayak orangtua mereka.
Panjang ya? Habisnya gue pengen berbagi cerita, kalau hidup emang gak pernah bisa diprediksi. Hari ini benci, besok bisa sayang. Gitu terus. Herannya gue sekarang udah gak bisa bener-bener benci sama mereka.